Pengertian dan Contoh Delusinasi
![]() |
| Delusinasi |
Delusi ialah keyakinan salah yang dipercaya oleh seseorang meski berbagai bukti relevan berbicara sebaliknya. Orang yang percaya terhadap keyakinan yang salah tersebut berarti mengalami delusinasi.
Delusinasi tidak ada kaitannya dengan adanya jaringan syaraf otak seseorang yang mengalami kerusakan. Seorang yang mengalami delusinasi sangat yakin pada kepercayaannya itu, sampai-sampai hal yang diyakini dan dipercayainya itu tidak dapat diganggu-gugat.
Bahkan menolah untuk diubah sekalipun bukti-bukti fisik yang berdasar pada sains telah memberikan penjelasan yang bertolak belakang dengan keyakinan dan kepercayaannya.
Contoh Delusinasi
Beberapa contoh delusinasi:
- Seseorang yang mempercayai bahwa bumi adalah pusat tata surya, padahal kenyataannya matahari adalah pusat tata surya.
- Seseorang yang tidak percaya bahwa bentuk bumi bulat dan menganggap bahwa bumi datar sehingga di ujung cakrawala terdapat jurang.
- Seseorang yang mempercayai bahwa surga terletak di langit/awan dan neraka di bawah bumi.
- Seseorang yang mempercayai adanya malaikat-malaikat yang melindungi kehidupannya.
- Seseorang yang mempercayai bahwa dirinya adalah “titisan ilahi” yang diutus ke dunia ini untuk membawa manusia bertobat.
- Seseorang yang mempercayai bahwa Tuhan telah berbicara kepadanya mengenai kapan tepatnya dunia akan kiamat.
Mereka Tidak Suka Fakta
Seseorang yang mengalami delusinasi tidak lagi memperhitungkan dan mempertimbangkan akal sehat melainkan hanya mendasarkan berbagai keyakinannya pada emosinya.
Orang yang bersangkutan tidak mau menguji dan menguji keyakinannya karena bagi dia keyakinannya sudah mutlak benar. Ia tidak melandaskan keyakinan yang dimilikinya pada bukti-bukti fisik yang didukung oleh kajian saintifik melainkan pada “perasaan”, asumsi, penglihatan, atau bahkan pewahyuan yang dianggapnya telah diterima langsung dari yang ilahi.
Tidak jarang juga orang mendasarkan keyakinan (-keyakinan) yang dimilikinya pada anekdot-anekdot atau cerita-cerita lama tanpa mempedulikan bukti-bukti terkini yang didukung oleh berbagai penjelasan saintifik masa kini.
Hal yang harus ditekankan dan diingat, delusi sama sekali tidak ada kaitannya dengan gangguan atau kerusakan jaringan syaraf otak yang dialami seseorang.
Artinya, delusinasi sangat mungkin dialami oleh orang-orang yang tergolong sehat secara fisik dan memiliki pengetahuan serta tingkat akademis yang cukup tinggi.
Namun, orang yang mengalami delusinasi sangat yakin jika keyakinan yang dimilikinya sebagai suatu kebenaran yang mutlak sehingga ia mengacuhkan bukti-bukti fisik yang ditunjang oleh saintifik walaupun bukti-bukti fisik itu mengajukan sesuatu yang berbeda dari keyakinannya.
Seorang yang mengalami delusinasi enggan mempertimbangkan berbagai hal yang berbeda dari keyakinannya terlebih menguji keyakinannya itu kemudian mengubahnya jika salah. Oleh karena itulah orang yang bersangkutan disebut (telah) mengalami delusinasi.
Ada Faktor Luar Yang Mempengaruhinya
Keyakinan palsu ini berdasarkan kesimpulan yang salah mengenai realitas kehidupan di luar yang didukung dengan kuat terlepas dari apa yang diyakini hampir semua orang.
Begitu juga terlepas dari apa yang merupakan bukti, yakni bukti yang tidak dapat dikontrol dan jelas sebaliknya. Keyakinan itu tidak satu biasanya diterima oleh anggota lain dari budaya atau subkultur orang tersebut (misalnya, itu bukan pasal iman agama).
Ketika keyakinan palsu melibatkan berberapa penilaian, hal kadang itu dianggap sebagai khayalan hanya kareba penilaian tersebut sangat bertolak belakang untuk menentang kredibilitas.
Secara Biologis
Delusi secara keras meyakini keyakinan palsu, meskipun bukti yang kuat sebaliknya. Mereka dapat terjadi dalam gangguan kejiwaan dan neurologis.
Orang-orang tersebut berbeda dari kondisi halusinasi dan konfabulasi yang melibatkan jaringan saraf dan anatomi yang berbeda. Delusi pada masalah tertentu sangat mungkin mempunyai anatomi dan neurobiologi berbeda yang mendasarinya.
Namun, aturan utamanya yaitu, bahwa semua delusi memiliki penyebut anatomi dan fisiologis umum. Hal ini menegaskan bahwa ada dua dasar hipotesis, yang mengusulkan bahwa delusi muncul dari dua disfungsi otak yang berbeda.
Misalnya, pembentukan delusi Capgras yang bisa jadi memerlukan disfungsi jaringan saraf untuk mengenali wajah serta jaringan penilaian hipotesis. Mungkin ada beberapa faktor genetik lainnya yang mempengaruhi terjadinya delusi.

0 Comments