Jangan Sesekali Menipu Diri Anda Sendiri

Wishful thinking dan penipuan diri


Banyak sekali kasus di dalam diri kita, di saat kita selalu percaya hal-hal tertentu bukan karena bukti tapi karena kita ingin percaya hal tersebut.

Wishful Thinking

Angan-angan (wishful thinking) adalah menafsirkan fakta, laporan, peristiwa, persepsi dan lain-lain, sesuai dengan apa yang diinginkan daripada sesuai bukti yang nyata.

Contoh pertama

Sebagai contoh, saya yakin kalau pacar saya setia bahkan walaupun beberapa teman saya mengatakan kalau mereka melihatnya akrab dengan pria lain.

Namun kellihatannya wajar saja, karena manusia adalah makhluk yang tidak bisa lepas dari egoisme mereka. Manusia pasti melibatkan perasaan, unik sekali jika ada manusia yang 100% mengandalkan logika.

Penipuan diri adalah proses atau fakta yang salah atau tidak sah tapi membawa kita untuk percaya ia benar atau sah. Penipuan diri, singkatnya, adalah cara untuk membenarkan keyakinan kita yang salah pada diri kita sendiri.

Saat saya yakin kalau pacar saya menyeleweng karena ia mencintai saya dan hanya mencoba membuat saya cemburu, saya menipu diri saya sendiri.

Kita sering percaya hal-hal tertentu bukan karena kita punya bukti yang bagus namun karena kita ingin mempercayainya.

Kita cenderung membenarkan hal-hal tersebut demi kita sendiri, dengan mencari bukti yang sesuai dengan apa yang sudah kita yakini atau ingin percayai.

Terlalu sering, kita mudah tertipu saat itu sesuai dengan tujuan kita. Kita mengizinkan kesetiaan atau kekerasan mengendalikan bagaimana kita berpikir mengenai mereka yang kita sayangi atau benci.

Sering juga kita melihat hanya apa yang kita ingin lihat dan yakini apa yang ingin kita yakini. Mempunyai kelapangan dada sangatlah penting dalam situasi ini, orang harus bisa menerima kenyataan yang ada.

Contoh lainnya

Sebagai contoh, saat kiriman uang untuk anak kita ditemukan terbuka dan kosong atau saat uang itu dicuri dari rumah kita, kita tidak ingin percaya kalau saudaranya sendiri yang mencurinya. Sehingga kita menerima klaim kalau ia tidak bersalah.

Situasi tersebut malah membuat seseorang menjadi denial. Karena dia menolak kenyataan yang ada dan terus bersikap menjadi orang yang berpikir positif.

Saat ia mengatakan kalau mungkin saja yang melakukan itu temannya atau teman dari temannya, kita terlalu siap untuk menyalahkan orang lain.

Beliau tidak perlu pembuktian siapa yang salah dan siapa yang benar. Keinginan dia untuk mempercayai bukan anak dia sendiri yang mencurinya dan ini cukup untuk menipu kita untuk berpikir kalau kita tau siapa pihak yang bersalah.

Keinginan kita untuk berhasil pada beberapa hal membuat kita terbutakan oleh kesalahan atau ketidakcukupan kita. Menghasilkan penyalahan ketidak mampuan kita pada orang lain.

Gejala ini bisa muncul pada masalah yang dianggap remeh hingga masalah yang cukup besar hingga skala antar negara.

Tipe penipuan diri yang paling menyimpang terjadi pada mereka yang menolak menerima fakta mengenai ketidakcerdasan, kekurang ambisian, atau ketidak ahlian mereka.

Dan lebih parahnya lagi menyalahkan keberadaan ras lain, kelompok etnis lain atau agama lain atas tindakan atau kediaman mereka sendiri.

Kesalahan ini selalu muncul dalam kelompok lain: Katolik, Yahudi, Muslim, Protestan; Republikan, Demokrat; Afrika, Asia, Meksiko; Serbia, Kroasia, Amerika; Arab, Iran, Israel atau pria kulit putih Eropa yang sudah mati.

Lalu Bagaimana Menyikapinya?

Jadilah orang yang ikhlas, udah itu aja, tidak lebih dan tidak kurang. Seperti yang telah disinggung dikit sebelumnya, harus ada kelapangan dada menerima kenyataan.

Cukup mudah bukan solusinya? Secara teori mudah, namun untuk mempraktekkannya memang terasa berat. Kita harus membiasakan diri kita!