Memahami Peran Otak Dalam Kepribadian Seseorang

Pengaruh otak pada sifat
Pengaruh otak pada sifat


Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal asosiasi psikologi Amerika memberikan sebuah fakta sains yang cukup menghebohkan. Yaitu menemukan adanya hubungan antara bentuk otak dan kepribadian. 

Wait... sebentar, bukannya logika itu selalu berkaitan dengan sikap logis seseorang ya? Bagaimana hubungannya dengan sebuah kepribadian?

Kan kepribadian itu bisa menyangkut juga masalah seperti egoisme seseorang? Cuku menarik bukan untuk dibahas?

Oke biar gak bingung dan banyak lama kita langsung bahas aja. Kita mula dari yang dasar dulu, yaitu bagaimana kepribadian dipengaruhi.

Bagian Otak Yang Memepengaruhinya

Kepribadian itu beraneka ragam. Sekarang para ilmuan psikologi menemukan kalau ukuran bagian otak tertentu menentukan kepribadian seseorang.

Sebagai contoh, orang yang hati-hati cenderung memiliki korteks prefrontal lateral yang lebih besar, daerah di mana ada keterlibatan otak dalam perencanaan dan perilaku mengendalikan.

Para psikolog telah bekerja keras dan mengatakan kalau kepribadian dapat dibagi menjadi lima faktor, yang disebut Big Five yang diringkas menjadi OCEAN : openness (keterbukaan/intelektual), conscientiousness (kehati-hatian), extraversion (ekstroversi), agreebleness (kesetujuan), dan neuroticism (neurotisme).

Colin DeYoung, seorang peneiliti dari University of Minnesota dan rekan-rekannya ingin mengetahui apakah faktor kepribadian ini berkorelasi dengan ukuran struktur di otak.

Studi Kasus Yang Dilakukan

Untuk studi ini, 116 relawan menjawab sebuah kuesioner untuk menentukan kepribadian mereka, lalu melakukan uji pencitraan otak yang mengukur ukuran relatif berbagai bagian otak.

Sebuah program komputer dipakai untuk melipat tiap bagian otak sehingga ukuran relatif berbagai struktur dapat dibandingkan. Beberapa hubungan ditemukan antara ukuran bagian otak tertentu dengan kepribadian. Penelitian ini tampil dalam jurnal Asosiasi sains psikologi, Psychological Science.

Seperti misal, setiap orang, kemungkinan besar paham tentang apa itu ekstroversi (terbuka secara sosial), orang yang ekstrovert itu suka bicara, sering keluar rumah dan sedikit random sifatnya.

Mereka lebih senang melakukan hal-hal seperti interaksi sosial dengan teman, beraktivitas di taman bermain atau segala hal yang sifatnya random. Dan mereka juga termotivasi untuk mendapatkan suatu rewards, yang merupakan bagian dari alasan mengapa sifat mereka lebih menuntut.

“Pencarian hadiah dipandang menjadi faktor utama ekstraversi. Studi sebelumnya telah menemukan bagian otak yang aktif dalam mempertimbangkan hadiah. Maka ilmuwan dan koleganya berpendapat kalau daerah tersebut harusnya lebih besar pada orang yang lebih ekstravert.

Dan benar juga, mereka menemukan kalau salah satu daerah tersebut, korteks orbitofrontal medial — sedikit di atas dan dibelakang mata, lebih besar secara signifikan pada subjek studi yang sangat ekstrovert.

Riset Lainnya Pun Hasilnya Serupa

Studi yang sama menemukan asosiasi yang sama pada kehati-hatian, yang berkaitan dengan perencanaan; neurotisme, kecenderungan untuk mengalami emosi negatif yang berkaitan dengan sensitivitas terhadap ancaman dan hukuman; dan kesetujuan, yang terkait dengan bagian otak yang memungkinkan kita memahami emosi, niat dan keadaan mental orang lain.

Hanya sifat keterbukaan/intelektual yang tidak berhubungan jelas dengan struktur otak yang telah diprediksi.

Tentunya teman-teman sekalian bisa mengatakan bahwa, hasil ini mulai mengindikasikan kalau kita dapat sesungguhnya menemukan sistem biologi yang bertanggung jawab atas pola perilaku dan pengalaman kompleks yang membuat orang menjadi individual.

Gimana udah bisa dimengerti ya, gimana bagian tubuh kita ini bisa mempengaruhi sifat seseorang? Saya harap kalian mengerti.

Ilmuwan pun menunjukkan kalau ini tidak berarti kalau kepribadian anda tetap sejak lahir; otak terus tumbuh dan berubah saat ia tumbuh. Pengalaman merubah otak saat ia berkembang, dan perubahan di otak tersebut dapat merubah kepribadian.